BANDUNG DAILY NEWS – Universitas Sangga Buana (USB) YPKP Bandung terus berupaya memperkuat transformasi digital di lingkungan akademik dengan memperkenalkan ijazah elektronik (e-sertifikat) dan tanda tangan digital. Langkah ini diambil untuk meningkatkan efisiensi dan keamanan pengelolaan dokumen penting di era digital.
Rektor USB YPKP, Didin Saepudin, menjelaskan bahwa penggunaan teknologi ini menjadi solusi relevan untuk menjawab tantangan kebutuhan akan efisiensi dan keamanan data akademik. Hal ini disampaikan dalam simposium internasional yang diadakan USB YPKP bekerja sama dengan perusahaan teknologi asal Korea Selatan, Mark Any, Kamis, 5 Desember 2024.
“Simposium ini bertujuan memperkenalkan e-sertifikat sebagai bagian dari transformasi digital di dunia pendidikan, khususnya untuk pengelolaan dokumen seperti ijazah, transkrip akademik, dan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI),” kata Didin.
Menurut Didin, implementasi ijazah elektronik masih memerlukan sosialisasi luas karena belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat.
“Kami memutuskan untuk fokus pada sosialisasi, menggali referensi dari berbagai sumber, termasuk regulasi di negara lain yang sudah menerapkan teknologi serupa,” ujarnya.
USB YPKP menargetkan penggunaan ijazah elektronik mulai 2025. Namun, Didin mengakui masih ada sejumlah tantangan, terutama terkait regulasi dan penerimaan masyarakat.
“Sejak awal 2024, kami sudah memulai pembahasan mengenai e-sertifikat. Dengan dukungan mitra kerja sama, persiapan semakin matang. Meski begitu, banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama memastikan regulasi mendukung program ini,” ungkapnya.
Didin menambahkan, penerimaan dari mahasiswa, orang tua, hingga perusahaan juga menjadi perhatian utama.
“Kami terus membangun pemahaman dan kepercayaan agar perubahan ini dapat diterima secara luas,” ujarnya.
Dengan penggunaan ijazah elektronik, proses penerbitan dan penandatanganan dokumen akan dilakukan secara digital, sehingga lebih efisien dan mengurangi risiko kehilangan dokumen.
“Jika ijazah hilang, mahasiswa tidak perlu datang ke kampus karena semua data tersimpan secara digital,” pungkas Didin.***








