Harian Bandung Ter-Update

Advertisements

BANDUNG DAILY NEWS — Film fiksi ilmiah keluarga Pelangi di Mars menghadirkan lebih dari sekadar visual canggih. Di balik produksinya, para pemain dan pengisi suara menjalani proses kreatif yang kompleks, mulai dari pendalaman karakter hingga adaptasi dengan teknologi Extended Reality (XR).

Dalam sesi wawancara di CGV Paskal 23 Bandung, Sabtu (28/3/2026), para pengisi suara seperti Bimo Kusumo, Dimitri Arditya, dan Vanya Rivani mengungkap bahwa proses pengisian suara dalam film ini tidak bisa disamakan dengan dubbing biasa.

Advertisements

Bimo Kusumo, pengisi suara karakter Batik, menekankan pentingnya menghadirkan emosi dalam setiap dialog. Menurut dia, seorang pengisi suara harus mampu menerjemahkan naskah menjadi karakter yang terasa hidup.

Advertisements

“Tugas voice actor itu bukan hanya kerja sesuai pesanan, tapi memberikan nyawa ke tulisan. Kita harus melakukan pendalaman skrip agar suara tidak cuma terdengar cocok, tapi harus ada pendalamannya supaya pas. Jadi robot juga harus punya sifat manusia,” ujar Bimo.

Advertisements

Selain mengisi suara, Dimitri Arditya dan Vanya Rivani juga terlibat sebagai body actor. Mereka berperan dalam menciptakan gerakan karakter robot agar terlihat lebih natural melalui arahan acting coach Almanzo Konoralma.

“Aku dan Vanya kebetulan body sekaligus voice actor. Kami diarahkan agar gerakan dan suara robot ini tidak kaku atau monoton, tapi terasa hidup,” kata Dimitri.

Advertisements

Vanya menambahkan, ia sengaja memasukkan unsur kepribadian dirinya ke dalam karakter Kimchi agar terasa lebih dekat dengan penonton anak-anak.

Advertisements

Sementara itu, aktris muda Messi Gusti yang memerankan tokoh utama menghadapi tantangan berbeda. Ia harus berakting di lingkungan virtual tanpa kehadiran lawan main secara fisik karena penggunaan teknologi XR.

Menurut Messi, kondisi tersebut menuntut kemampuan imajinasi yang tinggi, terutama saat melakukan adegan dialog dengan karakter robot.

Advertisements

“Karena XR, aku syutingnya sendiri sedangkan interaksi dan dialog aku sama robot-robot itu banyak banget. Jadi aku harus membayangkan robot itu benar-benar ada di posisi tertentu, line-nya harus dibayangkan betul-betul supaya pas,” ungkap Messi.

Tak hanya itu, Messi juga melakukan riset untuk menyesuaikan gerak tubuhnya sebagai manusia yang lahir dan besar di Mars. Ia mempelajari cara berjalan hingga beraktivitas di lingkungan berbeda, termasuk berlatih bersama Almanzo Konoralma.

Advertisements

“Aku meriset bagaimana kehidupan di Mars karena Pelangi itu dari kecil hidupnya di sana. Aku belajar cara jalan dan hidup di Mars, belum lagi tantangan kostum astronot yang lumayan berat, jadi gerakannya harus benar-benar dijaga,” ujarnya.

Film ini juga menjadi bagian penting dalam perjalanan karier Messi. Ia mulai terlibat sejak 2022 pada tahap awal produksi, lalu melanjutkan syuting utama pada 2024 saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Advertisements

Dengan kombinasi teknologi XR, pengisian suara yang mendalam, serta akting yang menuntut imajinasi tinggi, Pelangi di Mars menjadi salah satu upaya industri film Indonesia dalam menghadirkan karya fiksi ilmiah yang lebih kompetitif.***

Advertisements

Share:

Apa pendapat kamu?

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.
Kolom yang harus diisi ditandai dengan (*)

Segala Tentang Bandung Ada di Sini

Subscribe biar gak ketinggalan info Babandungan!